Artikel Terbaru
- 11.52 Taubat Sejati (Taubat Nasuha)
- 22.32 Ketika Allah di Hak Patenkan
- 22.08 Ahmadiyah Kampanyekan Islam Damai di Inggris
- 09.45 TOLERANSI ISLAM
- 21.41 ISTIGHFAR RASULULLAH saw
- 17.25 Mengikuti Jejak Nabi Ibrahim dan Siti Hajar
- 13.47 ALQURAN KITAB SEMPURNA
- 22.30 AKHLAK MULIA RASULULLAH saw
- 09.49 Dakwah Rasulullah dan Kemuliaan Rasulullah
- 10.09 Bayi Alquran Bertemu Dewan Mufti Rusia
| ALQURAN KITAB SEMPURNA |
|
|
|
| Thursday, 12 November 2009 13:47 | ||
|
Alquran Adalah Kitab Sempurna Sebutan Khataman Nabiyin yang dikenakan kepada Rasulullah saw mengharuskan bahwa Kitab yang diwahyukan kepada beliau adalah juga kitab yang paling sempurna dibanding semua kitab-kitab samawi lainnya serta merangkum keseluruhan keluhuran ajaran ruhani. Ketentuannya adalah sebagaimana tingkat derajat kekuatan ruhani dan kesempurnaan batin dari sosok yang menerima wahyu Allah, begitu pulalah derajat kekuatan dan keagungan dari firman bersangkutan. Mengingat kekuatan ruhani dan kesempurnaan batin Rasulullah saw adalah dari tingkat yang paling luhur, yang tidak akan mungkin disamai atau dilampaui oleh orang lain, demikian jugalah derajat Kitab Suci Alquran yang keluhurannya tidak akan bisa dicapai oleh Kitab-kitab samawi terdahulu. Kemampuan dan kekuatan ruhani Rasulullah saw adalah yang tertinggi dari semuanya, dimana semua bentuk kesempurnaan telah mencapai puncaknya dalam diri beliau. Karena itu Kitab Suci Alquran yang diwahyukan kepada beliau adalah juga Kitab yang sempurna dimana keluhuran daripada mukjizat firman mencapai titik tertinggi di dalamnya. Dengan demikian beliau itu adalah Khataman Nabiyin dan Kitab beliau menjadi Khatamal Kutub. Dari sudut pandang setiap aspek suatu firman Tuhan, Kitab Suci Alquran menempati derajat tertinggi. Kesempurnaan Kitab Suci Alquran bisa diamati dimana keajaiban rangkumannya bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, baik dari segi keindahan komposisi, dari urutan pokok pembahasan, dari ajaran yang tercantum serta dari kesempurnaan buah ajarannya. Karena itulah Alquran tidak memerlukan padanannya dari sudut pandang apa pun, bahkan Kitab ini melontarkan tantangan umum mempertanyakan apakah ada yang mampu menyamainya dalam segi apa pun. Dari sudut mana pun manusia memilih untuk memandangnya, Kitab ini merupakan mukjizat. (mirza Ghulam Ahmad dalam Malfuzat, vol. II, hal. 36-37). * * * Kitab Suci Alquran merupakan sebuah mukjizat yang kapan pun tidak ada dan tidak akan pernah ada padanannya. Gerbang rahmat dan berkatnya selalu tetap terbuka serta tetap cemerlang dan nyata di setiap zaman sebagaimana keadaannya ketika di masa Rasulullah saw. Kiranya kita ada memperhatikan bahwa bicara seseorang itu umumnya sejalan dengan ketetapan hatinya. Tambah tinggi ketetapan hati, tujuan serta tekad si pembicara, begitu pulalah mutu dari hasil bicaranya. Wahyu samawi juga mengikuti pola yang sama. Bertambah tinggi ketetapan hati dari sosok yang menerima wahyu Ilahi maka akan bertambah tinggi juga nilai dari wahyu bersangkutan. Mengingat ruang lingkup dari ketetapan hati, kapasitas dan tekad Rasulullah s.a.w. memang sangat luas, maka wahyu yang turun kepada beliau juga bersifat sama. Tidak akan pernah ada lagi manusia yang bisa mencapai derajat ketetapan hati dan keberanian seperti beliau mengingat ajaran beliau tidak terbatas pada suatu kurun waktu atau bangsa tertentu saja sebagaimana halnya yang terjadi pada Nabi-nabi sebelum beliau. Mengenai beliau yang dikemukakan sebagai sosok yang luhur ada terdapat dalam ayat: قُلْ يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّىْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعَا "Katakanlah: AHai manusia, sesungguhnya aku Rasul kepada kamu sekalian." (Q.S. Al-Araf (7) :159) serta ayat lain: وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ "Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat (Q.S.21 Al-Anbiya:108).Siapakah yang dapat menyamai beliau dengan ruang lingkup kenabian dan maksud kedatangan yang demikian luasnya? Sekarang ini kalau pun ada salah satu ayat Al-Quran yang diwahyukan kepada seseorang, aku yakin bahwa ruang lingkup wahyu tersebut tidak akan seluas sebagaimana ketika diterima Rasulullah s.a.w. (Mirza Ghulam Ahmad dalam Malfuzat, vol. III, hal. 57). Dikutip dari: Al-Qur’an Menurut Mirza Ghulam Ahmad, (Jakarta: Mataram Publishing, 2009) Older news items:
|
||
| Last Updated on Saturday, 14 November 2009 10:54 |



















